Search This Blog

Showing posts with label Makalah. Show all posts
Showing posts with label Makalah. Show all posts

Tuesday, January 21, 2014

makalah GANGGUAN SOMATOFORM (psikologi Abnormal)

SOMATOFORM DISORDERS

MAKALAH

Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : psikologi Abnormal
Dosen Pengampu : wisnu buntaran, S.psi

 











        Disusun oleh :

                          xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx



FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
 2013











1.      PENDAHULUAN

Gangguan somatoform adalah sekelompok gangguan mental yang ditempatkan dalam kategori umum berdasarkan gejala eksternal merek. Gangguan ini ditandai dengan keluhan fisik yang tampaknya medis  tetapi yang tidak dapat dijelaskan dengan penyakit fisik, hasil penyalahgunaan zat, atau gangguan mental lainnya. Dalam rangka untuk memenuhi kriteria untuk gangguan somatoform, gejala fisik harus cukup serius untuk mengganggu pekerjaan pasien atau hubungan, dan harus gejala yang tidak di bawah kontrol sukarela pasien.
Hal ini membantu untuk memahami bahwa klasifikasi sekarang gangguan ini mencerminkan perubahan sejarah terbaru dalam praktek kedokteran dan psikiatri. Ketika psikiatri pertama menjadi cabang terpisah kedokteran di akhir abad kesembilan belas, histeria istilah umum digunakan untuk menggambarkan gangguan mental yang ditandai dengan keadaan kesadaran yang berubah (misalnya, tidur sambil berjalan atau negara trans) atau gejala fisik (misalnya, " lumpuh " lengan atau kaki tanpa penyebab neurologis) yang tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh penyakit medis. Istilah disosiasi digunakan untuk mekanisme psikologis yang memungkinkan pikiran untuk memisahkan perasaan tidak nyaman, kenanga , atau ide-ide sehingga mereka kalah ingat sadar.[1]


2.      RUMUSAN MASALAH

A.    Apakah yang dimaksud somatoform disorders?
B.     Apa saja kah gangguan terhadap somatoform disorders itu?
C.     Bagaimana penangganan terhadap somatoform disorders?



3.      PEMBAHASAN
A.    Pengertian somatoform disorder

Dalam psikologi dikenal istilah Somatoform Disorder (gangguan somatoform) yang di ambil dari bahasa Yunani soma, yang berarti “tubuh”. Dalam gangguan somatoform, orang memiliki simtom fisik yang mengingatkan pada gangguan fisik, namun tidak ada abnormalitas organik yang dapat ditemukan penyebabnya. Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis. Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan.
Didalam somatoform disorder terdapat jenis-jenis yang memiliki spesifikasi dan gejala yang berbeda-beda. Pada gangguan somaform, sebuah kelompok gangguan psikologis yang melibatkan keluhan akan simtom-simtom fisik yang diyakini merefleksikan konflik atau isu psikologis yang mendasarinya pada sejumlah kasus tidak ada dasar medis untuk simtom-simtom fisik tersebut, seperti dalam bentuk kebutaan atau mati rasa secara histerikal (sekarang disebut gangguan konversi) pada kasus-kasus lain, orang dapat memegang pandangan yang berlebihan tentang makna dari simtom fisiknya, dan percaya bahwa hal itu merupakan tanda-tanda dari suatu penyakit serius meskipun diyakini tidak oleh dokternya.[2]




B.     Gangguan somatoform


Gangguan somatoform adalah sekelompok gangguan yang ditandai oleh keluhan tentang masalah atau simtom fisik (misal: nyeri, pusing, mual) yang tidak dapat dijelaskan secara medis. Karena tidak adanya bukti medis yang menjelaskan penyebab keluhan fisik inilah maka faktor psikologis dianggap memegang peranan penting dalam memicu dan mempengaruhi tingkat keparahan serta lamanya gangguan yang dialami.
Gangguan somatoform berbeda dengan malingering atau dengan syndrom munchausen[3]. Malingering adalah kepura-puraan simtom yang bertujuan untuk mendapatkan hasil yang jelas, memiliki karakteristik perilaku yang disengaja dan dilebih-lebihkan. Pasien selalu melakukannya untuk memperoleh keuntungan eksternal sebagai berikut[4]:
1.      Untuk menghindari situasi yang sulit atau berbahaya, menghindari tanggung jawab, atau hukuman.
2.      Memperoleh kompensasi, kamar atau tempat tinggal gratis, persediaan obat atau perlindungan dari polisi.
3.      Untuk membalas ketika pasien mengalami rasa bersalah atau penderitaan karena kehilangan finansial, menjalani hukuman legal atau kehilangan pekerjaan.
Sedangkan yang dimaksud dengan syndrom munchausen adalah suatu bentuk penyakit yang dibuat-buat dengan cara berpura-pura sakit/sengaja membuat dirinya sakit, tidak ada tujuan khusus seorang individu melakukan hal ini kecuali untuk mendapat perhatian para ahli medis.
Adapun berbagai gangguan somatoform diantaranya yakni:
1.      Gangguan nyeri (Pain Disorder)
Pada gangguan ini individu akan mengalami nyeri pada satu tempat atau lebih yang tidak dapat dijelaskan dengan pemeriksaan medis. Rasa sakit ini diduga muncul akibat faktor konflik psikologis. Penanganan yang dapat dilakukan adalah dengan pelatihan relaksasi, mengajari penderita bagaimana caranya menghadapi stres, mendorong untuk mengerjakan aktivitas yang lebih baik, dan meningkatkan kontrol diri.[5]  
Gangguan nyeri ditandai dengan adanya sakit parah sebagai fokus perhatian pasien . kategori gangguan somatoform yang mencakup berbagai pasien dengan berbagai penyakit, termasuk sakit kepala kronis, masalah punggung, arthritis, nyeri otot dan kram, atau nyeri panggul. Dalam beberapa kasus nyeri pasien tampaknya sebagian besar karena faktor psikologis, namun dalam kasus lain rasa sakit berasal dari suatu kondisi medis serta psikologi pasien.
Gangguan nyeri relatif umum dalam populasi umum, sebagian karena frekuensi cedera yang berhubungan dengan pekerjaan nya. Gangguan ini tampaknya lebih umum pada orang dewasa yang lebih tua, dan rasio jenis kelamin hampir sama, dengan rasio perempuan ke laki-laki 2:1 .

2.      Gangguan Dismorfik Tubuh (Body Dysmorphic Disorder)
Merupakan keluhan yang berlebihan/dibesar-besarkan tentang kekurangan tubuh. Penyebab dari gangguan ini belum diketahui secara pasti, namun diperkirakan faktor budaya atau sosial mempengaruhi. Misalnya adanya konsep bahwa perempuan cantik adalah yang memiliki hidung yang mancung, seorang individu yang mengalami gangguan dismorfik tubuh bisa jadi akan menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin untuk mengamati kekurangan hidungnya atau bisa jadi ia akan mengeluarkan biaya berapapun untuk memperbaiki hidungnya dengan cara operasi plastik.


3.      Hipokondriasis
Yakni ketakutan akan penyakit serius. Kecemasan yang dialami oleh seorang penderita hipokondria bukan hanya sekedar meyakininya saja melainkan juga disertai dengan tindakan, penderita hipokondria akan selalu menanggapi keluhan-keluhn fisik dengan sangat serius dan menyimpulkan bahwa dia menderita penyakit tertentu. Misal ketika menderita batuk, penderita hipokondria akan menganggap bahwa ia mengalami penyakit TBC atau kanker paru, sehingga ia akan terus memeriksakan dirinya ke dokter dan tidak mempercayai hasil lab, sekalipun hasil tersebut sudah sangat akurat.
Penyebab hipokondria umumnya adalah trauma, kecemasan, beban emosional dan konflik psikologis. Penanganan yang bisa dilakukan untuk para penderita hipokondriasis adalah dengan terapi kognitif behavioral karena terapi ini dapat mengubah pemikiran yang pesimis.

4.      Gangguan konversi
Menurut DSM IV, gangguan konversi adalah gangguan dengan karakteristik munculnya satu atau beberapa simtom neurologis (misal: buta, lumpuh, dll) yang tidak dapat dijelaskan secara medis dan diduga faktor psikologis memiliki peranan penting dengan awal dan keparahan gangguan.
Gangguan konversi (conversion disorders) dicirikan oleh suatu perubahan besar dalam fungsi fisik, meski tidak ada temuan medis yang dapat ditemukan  sebagai simtom atau kemunduran fisik. Simtom-simtom ini tidaklah dibuat secara sengaja. Simtom fisik itu biasanya timbul tiba-tiba dalam situasi yang penuh tekanan. Tangan seorang tentara dapat menjadi “lumpuh” saat pertempuran yang hebat
Menurut DSM, simtom konversi menyerupai kondisi neurologis atau medis umum yang melibatkan masalah dengan fungsi motorik (gerakan) yang volunteer atau fungsi sensoris. Babarapa pola simtom yang klasik melibatkan kelumpuhan, epilepsy, masalah dalam koordinasi, kebutaan tunnel vision (hanya bisa melihat apa yang berada tepat didepan mata), kehilangan indra paendengaran atau penciuman atau kehilangan rasa pada anggota badan(anestesi).[6]                                                                                                                                                                                                   

5.      Gangguan Somatisasi
Gangguan somatisasi adalah gangguan dengan karakteristik berbagai keluhan atau gejala somatik yang tidak dapat dijelaskan secara adekuat (tidak memenuhi syarat) dengan menggunakan hasil pemeriksaan fisik maupun laboratorium. Gangguan ini bersifat kronis (muncul selama beberapa tahun dan terjadi sebelum usia 30 tahun) dan berhubungan dengan stres psikologis yang signifikan, hendaya dalam kehidupan sosial dan pekerjaan serta upaya mencari pertolongan medis yang berlebihan.
Adapun menurut DSM IV gejala-gejala yang muncul harus meliputi[7]:
1.      Minimal ada empat simtom nyeri pada lokasi yang berbeda.
2.      Minimal ada dua simtom gastrointestinal. (misal: mual, kembung)
3.      Riwayat minimal ada satu simtom seksual yang berbeda dari rasa sakit/nyeri. (misal: ketidakmampuan ereksi).
4.      Satu gejala pseudoneurologis: Riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit yang mengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gejala konversi seperti sulit menelan atau benjolan ditenggorokan, retensi urin, pandangan ganda, kebutaan, ketulian, kejang).
Gangguan somatisasi sering disertai oleh gangguan mental yang lain, seperti gangguan kepribadian, cemas, fobia, dll.
Penanganan yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan kesadaran pasien tentang kemungkinan bahwa faktor psikologis terlibat dalam gejala penyakit. Dalam lingkungan psikoterapeutik, pasien dibantu untuk mengatasi gejalanya, untuk mengekspresikan emosi yang mendasari dan untuk mengembangkan strategi alternatif untuk mengekspresikan perasaan mereka.
 Jika gangguan somatisasi disertai dengan gangguan yang lain maka terapi psikofarmakologis penting untuk diterapkan dengan disertai pengawasan, sebab penderita ini cenderung mengkonsumsi obat secara berlebihan[8].

C.    PENANGGANAN TERHADAP SOMATOFORM

Jika memang terindikasi bahwa kamu adalah penderita somatoform disorder disarankan segara mendatangi psikolog untuk diberikan penanganan terapi agar gangguan dapat berkurang. Namun untuk kamu yang masih dalam taraf yang normal berikut adalah tips agar mengurangi rasa cemas atau gugup pada saat menghadapi situasi-situasi yang kurang membuat kamu nyaman:
1.      Tunda Kecemasan
Ini adalah teknik sederhana mengatasi kecemasan. Jika kamu sedang menghadapi situasi yang mengkhawatirkan, coba katakan pada diri sendiri “nanti aja deh aku menghawatirkan ini, karna gak akan terjadi apa-apa hari ini”. Setiap kali masalah muncul di pikiran kamu, pakailah cara ini karna fakta mengatakan bahwa kecemasan berlebihan sebagian besar tidak pernah terjadi. Menunda hanya cara untuk mengatasi pikiran negatif. Sifat alami dari pikiran manusia adalah menciptakan masalah dan mencemaskannya. Teknik ini adalah cara mengatasi kecemasan berlebihan yang paling mudah.
2.      Ambil Tindakan
Rasa cemas membuat kita lumpuh oleh ketakutan. Daripada hanya mencemaskannya saja, pikirkan dengan hati-hati langkah yang bisa diambil untuk menghindari masalah tersebut. Misalnya, ketika kamu mencemaskan masalah keuangan, pikirkan cara untuk mengurangi pengeluaran, cara meningkatkan pendapatan dsb. Cara mengatasi kecemasan bukan dengan hanya merasakannya dan seolah tidak berdaya. Ambilah tindakan, Beberapa masalah tidak boleh diabaikan dan butuh tindakan, sebagian lagi tidak memerlukan tindakan apa-apa karena hanya merupakan imajinasi belaka.
3.      Hati-Hati Dengan Apa Yang Dipikirkan
Ketika kita sering memikirkan sesuatu, kemungkinan besar hal tersbut akan terwujud. Jika kita khawatir akan membuat kesalahan, peluang kesalahan tersebut bisa terjadi semakin besar. Oleh karena itu, berhati-hatilah dengan apa yang kamu pikirkan. Ingat tentang kekuatan pikiran. Daripada memikirkan hal yang negatif, pikirkan cara mendapatkan jalan keluar dari masalah.
4.      Kendalikan Pikiran
Cara menghilangkan kecemasan yang paling utama adalah dengan belajar mengendalikan pikiran. Kadang kita dikuasai oleh pikiran sendiri, seolah kita diperbudak oleh pikiran yang belum jelas. Identifikasi pikiran yang muncul terlebih dahulu, terima jika pikiran itu benar dan keluarkan bila pikiran itu hanya merusak diri. Milikilah kemampuan untuk mengendalikan pikiran kita sendiri.
5.      Jangan Bersikap Angkuh
Kita sering khawatir tentang penilaian orang lain terhadap diri kita. Kita khawatir tidak dapat memenuhi harapan orang lain. Pemikiran seperti ini yang membuat diri angkuh karena terus-menerus mencari penghargaan dan kekaguman dari orang lain. Diperlukan kepercayaan diri yang tinggi dan ketenangan batin untuk tidak khawatir terhadap penilaian orang lain.[9]

D.    KESIMPULAN

Dalam psikologi dikenal istilah Somatoform Disorder (gangguan somatoform) yang di ambil dari bahasa Yunani soma, yang berarti “tubuh”. Dalam gangguan somatoform, orang memiliki simtom fisik yang mengingatkan pada gangguan fisik, namun tidak ada abnormalitas organik yang dapat ditemukan penyebabnya. Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing). Berbagai gangguan somatoform diantaranya:
A.    Gangguan nyeri (Pain Disorder)
B.     Gangguan Dismorfik Tubuh (Body Dysmorphic Disorder)
C.     Hipokondriasis
D.    Gangguan konversi
E.     Gangguan Somatisasi

F.     PENUTUP
Demikian makalah ini saya buat, saya sadar bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan. Maka dari itu saya mengharap kritik dan saran dari pembaca demi penyempurnaan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan bermanfaat bagi kita semua. aminnn

G.    DAFTAR PUSTAKA
Jeffery S. Nevid, Spencer A. Rathus, Beverly Greene. psikologi Abnormal. Jakarta: Penerbit   Erlangga. 2003
V. Mark Durand & David H. BarlowI. intisari Psikologi Abnormal. pustaka Pelajar. Yogyakarta. 2006
Fitri Fausiah & Julianti Widury, Psikologi Abnormal Klinik Dewasa. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. 2005




[2] Jeffery S. Nevid, Spencer A. Rathus, Beverly Greene, psikologi Abnormal, Jakarta: Penerbit   Erlangga, 2003, hal 201.
[3] Jeffery S. Nevid, Spencer A. Rathus, Beverly Greene, psikologi Abnormal, Jakarta: Penerbit   Erlangga, 2003
[4] Fitri Fausiah & Julianti Widury, Psikologi Abnormal Klinik Dewasa, Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 2005, hlm. 35
[5] V. Mark Durand & David H. BarlowI, intisari Psikologi Abnormal, pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2006, hal 239.
[6] Jeffery S. Nevid, Spencer A. Rathus, Beverly Greene, Ibid, hal. 217
[7]  Fitri Fausiah & Julianti Widury, Opcit, hlm 33

Saturday, January 18, 2014

MOTIF SOSIAL DALAM PERSPEKTIF ISLAM

MOTIF SOSIAL DALAM PERSPEKTIF ISLAM

MAKALAH

Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Psikologi Sosial
Dosen Pengampu : Drs. H. Nidlomun Ni’am, M. Ag


 











Disusun oleh :
xxxxxxxxxxxxxxxx



FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2013


I.            PENDAHULUAN

Manusia adalah makhluk soaial yang membutuhkan interaksi  dengan manusia lain dan lingkungan sosial disekitarnya.Kebutuhan-kebutuhan hidup manusia dipengaruhi adanya motif atau dorongan baik dari dalam diri sendiri maupun dari luar diri manusia baik berupa benda maupun situasi yang terjadi dilingkungan sekitarnya yang menyebabkan manusia berbuat sesuatu yang untuk mencapai kebutuhan hidupnya.
Setiap tingkah laku manusia memiliki pengaruh terhadap lingkungannya.untuk mengatur tingkah laku manusia dalam kehidupan bermasyarakat agar teratur masyarakat membuat aturan atau norma yang membatasi tingkah laku manusia agar dapat diterima dilingkunganya sehingga seseorang dapat bertingkah laku dengan wajar sesuai aturan yang berlaku.Dalam kehidupan bermasyarakat  kadang terjadi hubungan timbal balik, pertemanan, dan memungkinkan terjadinya kesepakatandalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak lepas dari peristiwa yang memberikan pelajaran baik yang menyenangkan, mengharukan, mengecewakan atau menyedihkan.Seseorang dapat  memahami apa yang dirasakan orang lain, merasa peduli terhadap perasaan orang lain tetapi tidak terhanyut dalam suasana yang sedang dihadapi orang lain.


II.               RUMUSAN MASALAH

a.                Apakah Pengertian motif sosial?
b.               Bagaimana macam-macam motif sosial?
c.                Contoh motif sosial dalam perspektif islam?

III.            PEMBAHASAN

a.                Pengertian
Motif adalah dorongan yang sudah terikat pada suatu tujuan. Misalnya, apabila seseorang merasa lapar, itu berarti kita membutuhkan atau menginginkan makanan. Motif menunjuk hubungan sistematik antara suatu respon dengan keadaan dorongan tertentu. Apabila dorongan dasar itu bersifat bawaan, maka motif itu hasil proses belajar.
Ada beberapa definisi tentang motif yaitu:
1.         Gerungan (1975)
2.         Lindzey, Hall dan Thompson (1975)
3.          Atkinson (1958)
4.         Sri Mulyani Martaniah (1982)
Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa motif merupakan suatu pengertian yang mencukupi semua penggerak, alasan, atau dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu. Semua tingkah laku manusia pada hakikatnya mempunyai motif. Tingkah laku juga disebut tingkah laku secara refleks dan berlangsung secara otomatis dan mempunyai maksud-maksud tertentu walaupun maksud itu tidak senantiasa sadar bagi manusia. Motif-motif manusia dapat bekerja secara sadar, dan juga secara tidak sadar bagi diri manusia. Kegiatan kegiatan yang biasa kita lakukan sehari-hari juga mempunyai motif-motifnya tersendiri.
Gardner Lindzey, calvin S. Hall dan Richard F. Thompson dalam bukunya Psychology (1975, P. 339) mengklasifikasikan motif ke dalam dua hal yaitu:


1.      Drives (needs)
Drive adalah yang mendorong untuk bertindak. Drives yang merupakan proses organik internal disebut drives primer atau drives yang tidak dipelajari. Misalnya: lapar dan haus. Drives yang lain diperoleh melalui belajar. Misalnya: persaingan.

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرهُ
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmupengetahuan beberapa derajat.” (Q.s. al-Mujadalah : 11)
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. Nabi Muhamad pernah bersabda :”Janganlah ingin seperti orang lain, kecuali seperti dua orang ini. Pertama orang yang diberi Allah kekayaan berlimpah dan ia membelanjakannya secara benar, kedua orang yang diberi Allah al-Hikmah dan ia berprilaku sesuai dengannya dan mengajarkannya kepada orang lain (HR Bukhari).
Hadits di atas mengandung pokok materi yaitu seorang muslim harus merasa iri dalam beberapa hal. Memang iri atau perbuatan hasud adalah perbuatan yang dilarang dalam ajaran Islam, tetapi ada dua hasud yang harus ada pada diri seorang muslim, yaitu pertama menginginkan banyak harta dan harta itu dibelanjakan di jalan Allah seperti dengan berinfaq, shadaqah dan lainnya. Harta ini tidak digunakan untuk berbuat dosa dan maksiat kepada Allah, kedua menginginkan ilmu seperti yang dimiliki orang lain, kemudian ilmu itu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, juga diajarkan kepada orang lain dengan ikhlash.[1]

2.      Incentives.
Incentives adalah benda atau situasi (keadaan) yang berbeda di dalam lingkungan sekitar kita yang merangsang tingkah laku. Incentives ini merupakan penyebab individu untuk bertindak. Antara drive dan incentives pada dasarnya merupakan dua sisi dari mata uang logam. Lapar menyebabkan kita bertindak untuk mendapatkan makanan, dan makanan yang kita dapatkan mengundang kita untuk memakannya. Bila kita tidak lapar maka makananan tidak memiliki nilai incentives. Tetapi incentives juga dapat menimbulkan kita untuk bertindak tanpa ada hadirnya drives. Misalnya: mungkin kita tidak lapar, tetapi melihat mie goreng terhidang di atas meja merangsang nafsu makan kita. Drives primer memenuhi kebutuhan untuk kelangsungan hidup dan kesehatan dengan jalan memenuhi kebutuhan psikisnya. Drives yang dipelajari memenuhi kebutuhan untuk kelangsungan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Misalnya: kebutuhan untuk ”disetujui” merupakan drives yang dipelajari karena diperolehnya melalui persetujuan orang lain, yaitu bisa orang luar, guru atau temannya. Penguat (reinforcer) yang digunakan untuk timbulnya drives pada seseorang ini adalah incentives. Incentive ini akan berpengaruh terhadap semangat seseorang untuk bertindak. Incentif ini dapat positif dapat pula negatif. Incentives yang positif adalah hadiah. Incentives yang negatif adalah hukuman.

Pengertian Motif Sosial
Setelah diketahui apakah sebenarnya motif itu, maka berikut ini disajikan beberapa definisi motif sosial:
1.      Lindgren (1073)
Motif sosial adalah motif yang dipelajari melalui kontak orang lain dan bahwa lingkungan individu memegang peranan yang penting.

2.      Barkowitz (1969)
Motif sosial adalah motif yang mendasari aktivitas individu dalam mereaksi terhadap orang lain.
3.      Max Crimon dan Messick (1976)
Mengatakan bahwa seseorang menunjukan motif sosial, jika ia dalam membuat pilihan memperhitungkan akibatnya bagi orang lain.
4.      Heckhausen (1980)
Motif sosial adalah motif yang menunjukan bahwa tujuan yang ingin dicapai mempunyai interaksi dengan orang lain.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa definisi motif sosial adalah motif yang timbul untuk memenuhi kebutuhan individu dalam hubungannya dengan lingkungan sosialnya. Motif timbul karena adanya kebutuhan/need. Kebutuhan kebutuhan dapat diartikan sebagai:
a.          Satu kekurangan universal dikalangan umat manusia dan musnah bila kekurangan itu tidak tercukupi.
b.         Satu kekurangan universal dikalangan umat manusia yang dapat membantu dan membawa kebahagiaan pada manusia bila kekurangan itu terpenuhi, walaupun hal itu tidaklah esensiil terhadap kelangsungan hidup manusia.
c.          Sebuah kekurangan yang dapat dipenuhi secara wajar dengan berbagai benda lainnya apabila ada benda khusus yang diingini tidak dapat diperoleh.
d.         Sifat taraf kebutuhan.
Kebutuhan (need) dapat dipandang sebagai kekurangan adanya sesuatu, dan ini menuntut segera pemenuhannya, untuk segera mendapatkan keseimbangan.
Situasi kekurangan ini berfungsi sebagai suatu kekuatan atau dorongan alasan, yang menyebabkan seseorang bertindak untuk memenuhi kebutuhan.[2]
b.               Motif sosial dan Macam-macamnya
Motif ini merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua penggerak. Alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebebkan ia berbuat sesuatu. Semua tingkah laku manusia pada hakekatnya mempunyai motif .
Macam-macamnya sebagai berikut:
1.      Motif biogenesis
Yaitu motif yang berkembang pada diri orang dan berasal dari organismenya sebagai makhluk biologis, dan motif-motif yang berasal dari lingkungan kebudayaanya.
Contoh; merasa lapar, haus, dan kebutuhan akan yang lainnya.[3]
Firman allah:
* ûÓÍ_t6»tƒ tPyŠ#uä (#räè{ ö/ä3tGt^ƒÎ yZÏã Èe@ä. 7Éfó¡tB (#qè=à2ur (#qç/uŽõ°$#ur Ÿwur (#þqèùÎŽô£è@ 4 ¼çm¯RÎ) Ÿw =Ïtä tûüÏùÎŽô£ßJø9$# ÇÌÊÈ  
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-a’raf:31)
2.      Motif sosiogenesis
Motif ini berasal dari lingkungan kebudayaan tempat orang itu berada dan berkembang. Motif ini tidak berkembang dengan sendirinya, mau tidak mau, berdasarkan interaksi sosial dengan orang-orang atau hasil kebudayaan orang.
$pkšr'¯»tƒ ã@ߍ9$# (#qè=ä. z`ÏB ÏM»t6Íh©Ü9$# (#qè=uHùå$#ur $·sÎ=»|¹ ( ÎoTÎ) $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ×LìÎ=tæ ÇÎÊÈ  
Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS. Al-mukminun:51)[4]

3.      Motif teogenetis
Yaitu motif-motif manusia sebagai makhluk yang berketuhanan. Motif tersebut barasal dari interaksi antara manusia dengan tuhan nya seperti yang nyata dalam ibadahnya dan dalam kehidupannya sehari-hari dimana ia berusaha merealisasi norma-norma agama tertentu.
Contoh; keinginan untuk mengabdi kepada tuhan yang maha esa.
Firman allah:
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=à2 `ÏB ÏM»t6ÍhŠsÛ $tB öNä3»oYø%yu (#rãä3ô©$#ur ¬! bÎ) óOçFZà2 çn$­ƒÎ) šcrßç7÷ès? ÇÊÐËÈ  
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. (QS. Al-baqarah:172)
c.                 Contoh motif sosial dalam perspektif islam
1.      Mendatangi dukun (kahin)

Firman  Allah:
@è% žw ÞOn=÷ètƒ `tB Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur |=øtóø9$# žwÎ) ª!$# 4 $tBur tbrâßêô±o tb$­ƒr& šcqèWyèö7ムÇÏÎÈ
 Katakanlah: "tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan”. (QS. An-Naml:65)

Nabi Muhammad saw sebagai utusan Allah pembawa risalah dating di tengah-tengah masyarakat, dimana disitu ada sekelompok manusia tukang dusta yang disebut “kukhaan” ( dukun) dan “arraaf” (tukang ramal)[5]
2.      Ghurur (tipu daya)
Firman allah ta’ala:
$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# ¨bÎ) yôãur «!$# A,ym ( Ÿxsù ãNä3¯R§äós? äo4quysø9$# $u÷R9$# ( Ÿwur Nä3¯R§äótƒ «!$$Î/ ârátóø9$# ÇÎÈ  
“ wahai manusia sesungguhnya janji allah itu pasti. Karena itu, jaganlah kamu tertipu oleh kehidupan dunia lain, dan janganlah kamu mau diperdayakan tentang allah oleh setan-setan penipu”. (QS.
Fathir:5)

3.      Adu domba (naminah)
Firman allah:
Ÿwur ôìÏÜè? ¨@ä. 7$žxym AûüÎg¨B ÇÊÉÈ   :$£Jyd ¥ä!$¤±¨B 5OÏJoYÎ/ ÇÊÊÈ  
“ dan janganlah kamu ikuti Setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang suka mencela orang yang berjalan kesana kemari dengan mengadu domba”. (QS. Al-qalam:10-11)
islam sangat membenci orang-orang yang suka mendengarkan omongan jelek, kemudian cepat-cepat memindahkan omongan itu dengan menambah-nambah untuk memperdaya atau karena senang adanya kehancuran dan kerusakan. Manusia semacam ini tidak mau membatasi diri sampai kepada yang didengar itu saja, sebab keinginan untuk menghancurkan itulah yang mendorongnya menambah omongan yang mereka dengar.
4.      Menimbun barang
Rasulullah bersabda yang di riwayatkan oleh abu daud, at-tirmidzi dan muslim dari mu’amar:
من ا حتكر فهو خا طىء.                

" barang siapa yang menimbin makanan selama empat puluh hari, ia sungguh lepas dari allah dan allah lepas dari padanya”.

بئس العبد المحتكر,ا ن سمع برحص سا ء ه و ا ن سمع ء فرح.   
“ sejelek-jelek hamba adalah si penimbun. Jika ia mendengar barang murah ia murka dan jika barang menjadi mahal ia bergembira”.
Hadits-hadits diatas yang berkenaan dengan masalah penimbunan dan permainan harga ini, ialah hadits nabi yang diriwayatkan oleh Ma’qil bin yasar salah seorang sahabat nabi.[6]

IV.            Kesimpulannya.

Motif sosial adalah motif yang timbulnya untuk memenuhi kebutuhan individu dalam hubungannya dengan lingkungan sosialnya. Motif timbul itu karena adanya kebutuhan (need).
Motif manusia merupakan dorongan, keinginan, hastrat, dan tenaga penggerak lainnya yang berasal dalam dirinya, untuk melakukan sesuatu. Motif-motif itu member tujuan dan arah kepada tingkah laku kita. Dan juga kegiatan-kegiatan yang biasa kita lakukan dalam sehari-hari itu mempunyai motif.
Motif tidak selalu dapat diamati dari perilaku, atau dapat dikatakan bahwa perilaku yang Nampak tidak selalu seperti yang Nampak, bahkan kadang-kadang motif berlawanan dengan perilaku yang Nampak. Oleh karena itu kita baru dapat memahami mengapa seseorang melakukan sesuatu kalau kita memahami motif yang mendasarinya.

V.            Penutup

Demikian makalah motif sosial dalam perspektif islam yang dapat penulis sampaikan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya. Amin.


VI.            Daftar Pustaka
Gerungan dipl psych, psikologi sosial, Jakarta, Penerbit: PT Eresco(1991)

Abu ahmadi, psikologi sosial, Jakarta, penerbit: pt rineka cipta (1999)

Imam Al Ghazali, Benang Tipis Antara Halal & Haram, Surabaya, Penerbit: Putra Pelajar, (2002)




[1] http://rasyid-ic.blogspot.com/2012/04/hadits-dan-ayat-tentang-kewajiban.html
[2]Gerungan dipl psych, psikologi sosial, Jakarta, Penerbit: PT Eresco(1991), hal.142
[3] Abu ahmadi, psikologi sosial, Jakarta, penerbit: pt rineka cipta (1999), hal.100
[4] http://afiqme.blogspot.com/2012/08/ayat-ayat-al-quran-berkenaan.html#sthash.g08LEP05.dpuf
[5] Imam Al Ghazali, Benang Tipis Antara Halal & Haram, Surabaya, Penerbit: Putra Pelajar, (2002), Hal. 46





[2]Gerungan dipl psych, psikologi sosial, Jakarta, Penerbit: PT Eresco(1991), hal.142
[3] Abu ahmadi, psikologi sosial, Jakarta, penerbit: pt rineka cipta (1999), hal.100
[4] http://afiqme.blogspot.com/2012/08/ayat-ayat-al-quran-berkenaan.html#sthash.g08LEP05.dpuf
[5] Imam Al Ghazali, Benang Tipis Antara Halal & Haram, Surabaya, Penerbit: Putra Pelajar, (2002), Hal. 46
[6] Ibid, hal 226